http://192.168.1.4/smkpws/wp-content/uploads/2017/11/42-2.jpg

Sejumlah alumni SMK Pelayaran Wira Samudera yang dulu pernah berdemo menuntut pihak sekolah kini menyesal dan meminta maaf. Alumni itu adalah Muhamad Ribut, Syarif Hidayatullah, Imam Thoriq dan dua alumni Taruni Migi Puspita serta Pawestri mendatangi SMK Pelayaran Wira Samudera di Jalan Kokrosono No.70 Bulu Lor Semarang Utara, pada Selasa (25/6/2019).Mereka bertemu dengan Kepala Sekolah, Bendahara Yayasan YPP serta Ketua Komite Yayasan YPP yang membawahi SMK ini dan disaksikan lurah Bulu Lor. Mereka meminta maaf kepada pihak sekolah, karena secara tidak langsung telah membuat citra negatif pada sekolah dengan berdemo pada tanggal 10 Januari lalu. “Saya selaku perwakilan angkatan dan teman-teman meminta maaf kepada pihak sekolah karena telah melakukan demo dan memberi tanggungan kepada sekolahan, saya mencoba mencari tahu datang ke kampus ternyata pihak sekolahan membenahi dan ternyata pelaksanaan ujian serta kegiatan belajar masih bisa berlangsung, untuk hal itu kita sudah tidak risau lagi untuk keadaan sekolah,” ucap perwakilan taruna, Syarif Hidayatullah.

Pihak sekolah dengan lapang dada menerima permintaan taruna dan taruni dan menganggap masalah ini sudah clear. “Kedatangan adik-adik alumni mengklarifikasi bahwa dalam tuntutan demo itu tidak sesuai, kita dengan sudah memaafkan dan tidak ada dendam,” ungkap Bendahara Yayasan YPP, Sugiarto. Sebelumnya sekitar 250 murid yang teridiri dari alumni dan siswa SMK Pelayaran Wira Samudera melakukan demo pada 19 Januari lalu.

Mereka mengajukan empat poin tuntutan kepada sekolah. Yang pertama adalah kejelasan approval, dimana lisensi approval sekolah ini akan digunakan untuk mengikuti UKP atau Ujian Keahlian Pelaut. Untuk approval SMK Pelayaran Wira Samudera masih berlaku dari tahun 2017-2022 sehingga tidak ada masalah. Kemudian yang kedua adalah kejelasan pembongkaran ruang laboratorium praktik. Fasilitas ruang laboratorium yang tersedia juga menjadi syarat ijin approval. Para siswa ini khawatir saat ruang praktik dibongkar, mereka tidak bisa memenuhi syarat untuk melakukan UKP karena ijin approval dicabut. “Ruang laboratorium itu dibongkar karena banjir, tetapi tidak dibongkar begitu saja melainkan kita pindah,” ucap Sugiarto. Lalu yang ketiga adalah pengenbalian ruang kelas yang dipakai oleh sekolah SMP YPP. Pihak sekolah mengatakan jika SMP YPP masih dalam satu yayasan sehingga saling bersauadara. Tuntuntan keempat adalah menolak mengakui kepala sekolah baru dan meminta kepala sekolah lama Agus Joko Purwanto dijadikan kepala sekolah kembali. Sedangkan peraturannya, kepala sekolah yang sudah menjabat selama dua kali harus diganti. Dan terakhir mereka menuntut sekolah menjamin mereka lulus UKP. “Sekolah itu tidak bisa menjamin, melainkan memfasilitasi para taruna dan taruni untuk bisa lulus UKP,” jelas Sugiarto.

Syarif dan teman-temannya mengaku terprovokasi saat itu.Kini mereka tersadar jika perbuatan mereka salah bahkan teman-teman mereka ada yang lulus UKP. Sehingga tidak ada kekeliruan dari pihak sekola dan approval sekolah sebagai syarat UKP masih belaku. Lelaki asal Purwodadi ini sendiri sedang menyiapkan ujian UKP. Ia pun berpesan kepada teman-teman yabg dulu pernah ikut demo agar menyadari mana yang salah dan mana yang benar. Pihak sekolah sendiri akan terus membantu para siswa untuk mendapatkan UKP dan ANT4 atau Ahli Nautica Tingkat 4.

*source: https://jateng.tribunnews.com/2019/06/25/sempat-demo-sekolah-alumni-smk-pelayaran-wira-samudera-menyesal-dan-minta-maaf?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *